rsuparikesit.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

AKREDITASI RS

Telah terakreditasi 5 Pelayanan Dasar : Administrasi Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan dan Rekam Medis.

118 Rescue

118 Secara berkesinambungan SDM baik Medis, Paramedis maupun Non Medis diikutsertakan dalam pelatihan pelatihan Emergency...

BRIGADE SIAGA BENCANA

Satuan Tugas Bencana dipersiapkan untuk membantu jika ada musibah bencana alam di seluruh Indonesia

Program Pendidikan S1

Global Bekerjasama dengan STIKES Samarinda melaksanakan program pendidikan Alih Jenjang Strata 1 bagi tenaga Keperawatan RS.

RS Type B

Berdasarkan Kepmenkes No. 1222/Menkes/SK/XII/2009, status RSUD AM. Parikesit telah ditingkatkan menjadi RS TIPE B.

MASYARAKAT DUNIA PERINGATI HARI HEPATITIS

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Hari HepatitisJakarta, 28 Juli 2010

Tanggal 28/7/2010 masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Hepatitis. Peringatan ini merupakan tindak lanjut  ditetapkannya Resolusi Sidang Majelis Kesehatan Sedunia (World Health Assembly=WHA) ke-63 Mei 2010 di Geneva, Swiss. Dalam Sidang  WHA ke-63  ditetapkan 21  resolusi diantaranya tentang Viral Hepatitis sekaligus  ditetapkan tanggal 28 Juli  sebagai World Hepatitis Day. Inti  resolusi yang merupakan prakarsa Indonesia,  adalah  menyerukan kepada seluruh negara di dunia untuk melakukan penanganan hepatitis  secara  komprehensif mulai dari pencegahan sampai pengobatan, meliputi perbagai aspek termasuk surveilans dan penelitian.

Penyakit hepatitis  dari berbagai tipe (A, B dan C)  merupakan masalah kesehatan besar di seluruh dunia.  Berdasarkan data,terdapat lebih dari 2 milyar penduduk dunia  telah terinfeksi oleh virus hepatitis B dan lebih dari 360 juta penduduk dunia yang  menjadi pengidap kronis virus ini. Selain itu, 130–170 juta penduduk dunia merupakan pengidap virus hepatitis C, dengan angka kematian  lebih dari 350 ribu per tahun akibat komplikasi hepatitis C.

Di Indonesia,  jumlah penderita Hepatitis B dan C diperkirakan mencapai 30 juta orang. Sekitar 15 juta orang dari penderita  Hepatitis B dan C berpotensi menderita chronic liver diseases. Indonesia sendiri digolongkan ke dalam kelompok  daerah dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas menengah sampai tinggi.

Hal itu disampaikan  Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH pada  peringatan Hari Hepatitis Sedunia pertama, di RSUP  Sardjito, Yogyakarta.  Hadir dalam acara ini,  Perwakilan WHO, UNICEF, perwakilan dari kementerian dan institusi terkait lainnya, organisasi  profesi dan kemasyarakatan (IDI, PPHI, IDAI, BKGAI, IBI, PPNI), dan produsen vaksin

Mengutip data Riskesdas tahun 2007, Menkes menyebutkan prevalensi Nasional Hepatitis klinis sebesar 0,6% (rentang 0,2% – 1,9%). Tercatat 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas  angka nasional dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Selain itu proporsi penyebab kematian pada golongan semua  umur dari kelompok penyakit menular, penyakit hati (termasuk Hepatitis kronik) menduduki urutan ke 2.

Data Riskesdas 2007 juga menyebutkan, pada golongan umur 15 - 44 tahun,di pedesaan penyakit hati menduduki urutan pertama  sebagai penyebab kematian, sedang di daerah perkotaan menduduki urutan ke 3.

Penderita Hepatitis C sebagaian besar dialami oleh kelompok umur 30-39 tahun yaitu sekitar 29,6% dan kelompok umur 20-29 tahun  yaitu sekitar 27,0%. Selain itu terdeteksi pula bahwa Hepatitis C juga diderita oleh kelompok umur sangat muda (0-9 tahun) yaitu sekitar 0,2 % dan pada kelompok usia lanjut ( 70 tahun ke atas) yaitu sekitar 5,4%.

“Jumlah penderita Hepatitis C yang terdata sejak Oktober 2007 – 2009 adalah 17.999  kasus. Terdapat peningkatan kasus Hepatitis C yang dilaporkan pada tahun 2008-2009.

Diharapkan kasus Hepatitis C yang terjadi dapat dilaporkan lebih banyak lagi sehingga  dapat menggambarkan besaran masalah Hepatitis C,” tambah Menkes.

Menurut Menkes, untuk menanggulangi penyakit hepatitis ini, pemerintah telah melakukan beberapa upaya, diantaranya melakukan pilot project imunisasi hepatitis B di Pulau Lombok (tahun 1986 – 1990), melakukan proses integrasi  imunisasi hepatitis B kedalam program imunisasi secara bertahap (tahun 1991-1996), integrasi imunisasi hepatitis B kedalam program imunisasi rutin secara nasional (tahun 1997), meningkatkan cakupan bayi baru lahir (uniject HB) dan kini  telah dilaksanakan di seluruh Indonesia (tahun 2003)  dengan menyederhanakan jadual imunisasi, maka vaksin hepatitis B digabung dengan vaksin DPT, menjadi vaksin DPT/HB kombinasi (tahun 2004).

Menkes menambahkan cakupan Imunisasi HB 0 (<7 hari) bervariasi di berbagai provinsi karena sejumlah daerah terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau  serta adanya anggapan para orang tua yang tidak mengizinkan anaknya untuk diimunisasi sebelum berumur 40 hari.

Pada kesempatan  tersebut Menkes meminta semua pihak  bahwa pemberian imunisasi hepatits B adalah untuk memutuskan rantai penularan  dari ibu pengidap kepada bayinya dan memberikan perlindungan hepatitis B di masa mendatang.

Menkes menjelaskan, sejak tahun 1992 pemerintah telah melakukan penapisan darah melalui bank darah  Palang Merah Indonesia untuk hepatitis B, hepatitis C dan HIV/AIDS untuk mencegah  penularan melalui transfusi darah.

“Meskipun kita telah melakukan berbagai upaya, hepatitis masih merupakan masalah yang besar,” ujar Menkes.

Beberapa tantangan yang dihadapi, menurut Menkes, adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman  masyarakat dan petugas kesehatan, kurangnya data dan informasi, sehingga besarnya masalah tidak diketahui, serta cakupan imunisasi masih belum merata

Selain itu juga fasilitas diagnosis belum merata dan keberhasilan  pengobatan masih kurang karena pasien datang terlambat, resistensi virus, dan harga obat yang relatif mahal. Sementara operasi dan transplantasi hati: masih terbatas dengan biaya tinggi

Melihat kenyataan bahwa Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia serta kurangnya kemajuan dalam pencegahan dan pengobatan di dunia, khsusnya di negara berkembang, Indonesia berinisistif diperlukannya upaya global untuk pencegahan dan pengoabatn hepatitis yang bersifat komprehensif.

Upaya itu dimulai Indonesia dengan  mengusulkan kepada WHO Executive Board agar hepatitis menjadi isu dunia dengan menetapkannya sebagai Resolusi WHA tentang Viral Hepatitis”, terang Menkes.

Ditambahkan, usulan  Indonesia tersebut  diterima oleh WHO Executive Board untuk dibahas   dalam sidang World Health Assembly (WHA) atau Majelis Kesehatan Sedunia ke 63 bulan Mei 2010.

Majelis Kesehatan Sedunia  yang merupakan forum tertinggi Negara-negara anggota WHO menerima usulan Indonesia dan menetapkannya sebagai Resolusi WHA  tentang Viral Hepatitis.

Inti resolusi yaitu menyerukan kepada semua Negara di dunia untuk melakukan penanganan hepatitis secara komprehensif mulai dari pencegahan sampai pengobatan meliputi berbagai aspek termasuk surveilans dan penelitian.  Dalam resolusi itu juga ditetapkan tanggal 28 Juli sebagai World Hepatitis Day, jelas Menkes.

Tanggal 28 Juli adalah hari kelahiran Dr. Baruch Blumberg,  penemu virus hepatitis B pada tahun 1967 dan pembuat vaksin hepatitis B pertama pada tahun 1969. Penemuannya ini,  mengantarkan Baruch mendapat hadiah Nobel pada tahun 1976. Sedangkan ditetapkannya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai puncak peringatan, karena mempunyai nilai historis yaitu sebagai tempat pencanangan imunisasi hepatitis B segera setelah bayi lahir.

You are here Lain - lain Wawasan Terkini MASYARAKAT DUNIA PERINGATI HARI HEPATITIS